Prodi Pendidikan PPKn UNIPMA Dampingi Warga Desa Pelem Kembangkan Akuaponik 

Universitas PGRI Madiun— Program Studi Pendidikan PPKn Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Madiun (Universitas PGRI Madiun) mengajak warga Desa Pelem, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, memanfaatkan lahan pekarangan melalui budidaya akuaponik. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut berlangsung pada 28–29 September dan diinisiasi Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) CIVICS Pendidikan PPKn FKIP Universitas PGRI Madiun. Sebanyak 10 warga terlibat dalam kegiatan yang didukung 21 mahasiswa sebagai panitia.

Ketua Program Studi Pendidikan PPKn, Dr. Yuni Harmawati, S.Pd., M.Pd., hadir memberikan sambutan bersama dosen pendamping Dr. Maya Kartika Sari, S.Pd., M.Pd. Kehadiran dosen menjadi bentuk dukungan civitas akademika terhadap kegiatan mahasiswa sekaligus pengabdian kepada masyarakat.

Dr. Yuni Harmawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai kewarganegaraan, kepemimpinan, dan kepedulian sosial secara langsung.

“Pengabdian ini menjadi awal perjalanan mahasiswa untuk mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya.

Beliau berpesan agar mahasiswa tidak hanya membawa program, tetapi juga belajar dari masyarakat dan membangun kerja sama dengan warga. Sementara bagi masyarakat, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan secara mandiri setelah program berakhir.

Dalam kegiatan tersebut, warga mendapat materi tentang ketahanan pangan keluarga, pemanfaatan pekarangan, teknik akuaponik, serta peluang usaha. Peserta kemudian mempraktikkan pembuatan satu instalasi akuaponik percontohan menggunakan drum plastik 200 liter, pipa PVC, dan pompa air.

Instalasi tersebut diisi 200 ekor bibit lele serta ditanami kangkung, sawi, dan selada. Warga juga belajar mengelola kualitas air, memilih bibit, memberi pakan, dan merawat ekosistem budidaya.

Salah satu anggota HMPS CIVICS, Abdullah, mengatakan kegiatan menggunakan metode workshop and learning by doing agar warga terlibat langsung dalam proses budidaya.

“Pendampingan dilakukan secara tatap muka dan daring agar pengelolaan akuaponik tetap dapat dipantau setelah pelatihan,” ujar Abdullah.

Pendampingan dilakukan melalui kunjungan lapangan dan grup WhatsApp dengan monitoring setiap dua bulan. Langkah ini disiapkan untuk membantu warga menjaga keberlanjutan instalasi dan mengatasi kendala selama proses budidaya.

Program tersebut berangkat dari kondisi lahan pekarangan warga yang belum dimanfaatkan secara optimal serta perlunya pengetahuan tentang teknologi budidaya hemat lahan dan air. Selain memenuhi kebutuhan pangan, hasil ikan dan sayuran juga diarahkan untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Salah seorang peserta, Retno Tri Wiyarsih, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan aktivitas produktif bagi warga, terutama ibu rumah tangga. “Semoga kegiatan seperti ini bisa dicontoh warga di desa lain,” ujar Retno.

Kegiatan ini turut mendukung SDGs tujuan kedua tentang penghapusan kelaparan (Zero Hunger). Program yang mengusung nilai “Bersatu, Bergerak, Bertumbuh Bersama” itu diharapkan menjadi langkah awal agar budidaya akuaponik dapat dikembangkan dan dikenalkan kepada warga di lingkungan sekitar.