Menyatu dengan Sejarah dan Harmoni: Mahasiswa UNIPMA Gelar Kemah Kerja Moderasi Beragama di Kampung Sodong Ponorogo
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Madiun (Universitas PGRI Madiun) menggelar Kemah Kerja Sejarah di Kampung Sodong, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, pada 25–26 Oktober 2025, kemarin. Kegiatan yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (Himadira) ini mengangkat tema “Masyarakat Kampung Buddha Sodong dalam Merajut Moderasi Beragama.”
Berbeda dari kemah kerja pada umumnya, kegiatan ini menitikberatkan pada kolaborasi antara riset sejarah lokal dan praktik nyata moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk. Kampung Sodong dipilih karena menjadi salah satu contoh hidup kerukunan antarumat Buddha dan Muslim yang telah terjalin harmonis selama bertahun-tahun.
Ketua Pelaksana, Salwa Alifia Salsabella, menjelaskan bahwa kemah ini tidak hanya bertujuan menggali data sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat toleransi melalui pengalaman langsung di lapangan. “Di Kampung Sodong ini, kami belajar bagaimana harmoni antarumat beragama tumbuh dari akar sejarah dan tradisi,” ujarnya.
Selama dua hari kegiatan, para peserta melakukan Lawatan Sejarah Lokal dengan menelusuri sejumlah situs penting di Kampung Sodong, mulai dari tempat ibadah, makam tokoh, hingga lokasi bersejarah yang menjadi saksi perjalanan kerukunan antaragama di sana. Mahasiswa juga terlibat dalam sesi diskusi bersama tokoh masyarakat, salah satunya Pandita Suwandi, rohaniawan umat Buddha yang dikenal menjaga tradisi lintas agama di kampung tersebut.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa menggali berbagai praktik moderasi dan gotong royong yang hidup di tengah masyarakat, termasuk tradisi bersama seperti perayaan Malam Satu Suro yang melibatkan umat Buddha dan Muslim secara bergotong royong. Nilai-nilai keseimbangan, saling menghormati, dan kerja sama lintas keyakinan menjadi fokus utama pembahasan.
Dosen Pembina Program Studi Pendidikan Sejarah, Prof. Dr. M. Hanif M.M., M.Pd., memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa tersebut. “Kampung Sodong adalah laboratorium hidup kerukunan. Mahasiswa belajar langsung bagaimana moderasi beragama diwujudkan dalam kehidupan nyata. Ini bukan sekadar pengabdian, tapi juga pembelajaran yang membekas,” tuturnya.
Selain memperkaya wawasan sejarah dan budaya lokal, Kemah Kerja Sejarah juga menjadi bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek penelitian dan pengabdian masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai toleransi dan menjadi agen moderasi di lingkungannya.
Ke depan, Himadira berencana melanjutkan kegiatan serupa di daerah lain sebagai upaya mendokumentasikan warisan sejarah lokal dan praktik kerukunan di berbagai wilayah.



